Senin, 24 Oktober 2011

Perempuan,.Kembalilah Ke Rumah !

Nurul Azkiyah, Ponakanku yg lucu


Catatan ini ADALAH COPAS dr sbuah blog yg menarik n inspiratif dibaca (dlm pandangan subyektifitas ke-adam-an saya)

Hari ini, saya dititipkan seorang bocah centil berumur 5 tahun bernama NAYLA, ”NAY” nama panggilannya, putri dari sahabat saya, ada syurga tersendiri untuk saya bisa bermain dengan bocah secentil saya sewaktu seumur dia menemaninya selama seharian memberi saya banyak pelajaran berharga :)
Ada yang menarik dari perempuan kecil ini, seharian yang ia mainkan adalah boneka gundul yang seperti bayi kecil yang seolah olah anaknya yang harus ia beri susu, gantikan popoknya, beri makan dan minum, meninabobokan dan membacakan buku dongeng apa saja hingga si boneka bayi itu tertidur Ada yang lebih menarik lagi dari semua yang Nay mainkan adalah ia sibuk memainkan trolly belanjaannya seolah keluar masuk supermarket sambil menggendong boneka bayinya, kemudian Nay memasak dengan segala alat masak mainannya dan memberi makan boneka bayinya….
Subhanallah …
Ternyata, setiap manusia itu dilahirkan dengan fitranya dan nalurinya sejak kecil bahkan sejak bayi, perempuan dengan naluri keperempuanan seperti Nay yang sejak usia sedemikian kecil dengan naluri menjadi Ibu rumah tangga, menjaga anak, mendongengkan, menina bobokan dan memberi makan dan minum, kemudian memasak dan membereskan rumah, sangat MENYENTUH naluri keperempuanan saya, yang hingga saat ini belum mampu memasak, hahaha :)
Subhanallah ya ALLAH ya Nurul Qolbu [again and again], tak henti saya berguman dan takjub akan apa yang saya lihat seharian ini.

Saya jadi teringat ketika sahabat sahabat saya sempat bingung melihat tujuan hidup saya untuk menjadi Ibu rumah tangga yang bekerja dirumah sambil menjaga anak anak, atau bekerja yang bisa sambil membawa anak anak saya ketempat saya bekerja, menjadi guru atau penulis misalnya atau membuka toko one stop shoping for muslimah dan sahabat sahabat saya bilang “kalau kaya gitu sih, gak usah kuliah S2 kali De” dan saya menjawabnya dengan senyum bahwa di jiwa saya terus berkembang bahwa Ibu yang cerdas akan menghasilkan anak anak yang cerdas, itu artinya ijazah kuliah untuk membuat anak anak cerdas bukan? gak sia sia dong :) setuju gak?
Sekali lagi, ini SEMATA MATA PEMIKIRAN SAYA SAJA yah [takut diprotes para perempuan di era global nih ]
Saya selalu terpikir bahwa kantor itu bukan tempatnya perempuan, bukan tempatnya seorang Ibu, dengan berbagai alasan misalnya “anak akan mandiri jika Ibu bekerja De”, apa tega anak umur 0-10 tahun harus mandiri? apakah mendidik mereka untuk mandiri dengan meninggalkan mereka? saya sering melihat anak anak yang dititipkan kepada si nenek atau nenek mertua, koq tega yah? bukankah orang tua kita harusnya menikmati saat saat indah bersama cucu di akhir pekan, jadi bukan dibebankan untuk mengganti popok, mengejar ngejar si kecil yang tak mau makan? ya ALLAH … Ibu sudah lelah, janganlah dibebani dengan hal yang melelahkan ini sudah lelah mengurus kita sewaktu kita kecil bukan? dan kini kita lelahkan tubuh keriputnya dengan urusan anak anak kita… mau nangis rasanya saya.
Sewaktu saya seumur Nay, saya sangat menginginkan seorang Ibu yang dengan tangan lembutnya akan membelai kepala saya setiap kali saya membutuhkan cinta, menyambut dipintu setiap kali saya pulang sekolah dengan senyum yang termanis didunia, dengan pelukan terhangat diatas bumi ALLAH ini, kemudian menemani saya makan sambil mendengarkan celoteh saya menceritakan isi dunia kecil saya dan kemudian menemani saya bobo sambil bersenandung atau membacakan dongeng dongeng hingga saya terlelap dibobo di pelukan Ibu …. dan ketika saya bangun maka Ibu lah yang pertama kali akan saya cari.
ya ALLAH titp salam untuk Ibu di syurgaMU
Lalu ketika untuk alasan sudah sekolah tinggi tinggi masa cuma jadi Ibu rumah tangga De, tegakah saya melepas semua keindahan dunia sebagai Ibu, melihat mulut mungil yang kekenyangan karena makanan yang mereka lahap dari tangan lembut saya, adalah syurga dibanding promosi sebagai manager dikantor yang hanya membuat bangga bos saya, mana lebih berharga? melihat kaki kaki kecil menggeliat menginjak bumi karena saya yang menuntunnya untuk melangkah mungkin adalah imbalan yang pas atas jerih payah saya sewaktu sekolah dulu? apa gaji puluhan juta lebih indah dari kaki kaki kecil ini?
Ah … mungkin rasa ini hanya berlaku untuk perempuan perempuan seperti saya yang tidak dibesarkan oleh seorang Ibu yang melahirkan saya mungkin ini hanya untuk perempuan yang cara pandangnya sesederhana saya, menjadi Ibu, karena menurut saya menjadi perempuan itu sangat mudah loh, semua tinggal minta sama suami, kebutuhan jasmani kan tinggal minta sama suami, apalagi kebutuhan batin pasti dikasih lah gak perlu minta oopppsss !!!

Dan, saya menghayal seandainya semua perempuan berada dirumah mungkin global warming bisa berkurang karena mobil berkurang dijalan, dan perempuan bisa bertaman dirumah dan para lelaki sekarang katanya lebih suka istrinya bekerja jadi selevel gitu, emang menjadi Ibu beda level dengan menjadi Ayah yah
Bukankah di AlQuran memang tugas lelaki dan perempuan itu berbeda, atau kita sudah berani bilang AlQuran gak up to date lagi tuh di zaman sekarang atau, atau imam dalam rumah tangga telah diambil oleh perempuan sehingga laki laki takut meminta istrinya untuk dirumah bersama para buah hati, berarti gagal dong amanah ALLAH untuk menjadi imam bagi sang suami bukan?
Bukankah tanggung jawab ini akan dihisab di akhirat nanti? dan kita diamkan hanya karena takut istrinya lari ke pengadilan agama karena gak boleh kerja? lebih takut mana sama azab ALLAH, atau jangan jangan perempuan udah jadi berhala yang disembah para lelaki? atau akhirat bukan lagi tujuan berumah tangga… *sok tahu nih Ade*
Nauzubilahimindzalik !!
Ah sudahlah, Saya mau main dengan Nay lagi, belajar lagi dari dunia kecilnya yang indah :)

(baca selengkapx di http://rinduku.wordpress.com/2009/07/01/perempuan-kembalilah-kerumah/)

Makassar, 9 januari 2010 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar